Jenis Kelainan Saraf Kranial

Posted on

DETALOG.COM – Pernahkah kamu mendengar istilah saraf kranial? Apakah itu saraf kranial? Dan apa-apa sajakah jenis kelainan kranial? Artikel kali ini akan membahas mengenai saraf kranial beserta jenis kelainannya. Yuk simak artikel berikut ini.

Saraf Kranial

Saraf kranial (kadang-kadang disebut saraf otak), adalah saraf yang muncul langsung dari otak dan batang otak, berbeda dengan saraf tulang belakang (yang muncul dari berbagai segmen medula spinalis). Informasi yang dipertukarkan antara daerah otak dan berbagai, terutama dari kepala dan leher, melalui saraf kranial.

Saraf kranial adalah 12 pasang saraf yang dapat dilihat pada ventral (bawah) permukaan otak. Beberapa saraf ini membawa informasi dari indra ke otak; otot saraf kranial mengendalikan lainnya; saraf kranial lain yang terhubung ke kelenjar atau organ seperti jantung dan paru-paru.

Saraf kranial adalah komponen dari sistem saraf perifer, dengan pengecualian saraf kranial II (saraf optik), yang bukan merupakan saraf perifer sejati tetapi saluran saraf dari diensefalon; maka kedua saraf optik dan retina adalah bagian dari sistem saraf pusat (SSP).

Jenis Kelainan Saraf Kranial

Berikut ini beberapa jenis kelainan saraf kranial, yaitu:

Neuralgia Glossofaringeal

Neuralgia Glossofaringeal adalah suatu kelainan yang jarang, dimana terjadi serangan berulang dari nyeri hebat di tenggorokan bagian belakang dekat amandel, yang kadang-kadang mengenai telinga pada sisi yang sama.
Neuralgia trigeminal biasanya mulai timbul pada usia 40 tahun dan lebih sering terjadi pada pria.
Penyebab
Penyebabnya tidak diketahui.

Gejala
Serangan nyeri hilang timbul dan singkat, tetapi menyebabkan nyeri yang luar biasa dan bisa dipicu oleh aktivitas tertentu, seperti mengunyah, menelan, berbicara atau menguap.

Nyeri bisa berlangsung selama beberapa detik sampai beberapa menit dan biasanya hanya mengenai satu sisi.

Diagnosa
Diagnosis ditegakkan berdasarkan gejalanya.

Pengobatan
Obat yang diberikan adalah karbamazepin, fenitoin, baklofen dan anti depresi.
Jika pemberian obat tidak berhasil mengurangi gejala, mungkin perlu dilakukan pembedahan untuk menghalangi atau memotong saraf glossofaringeal di leher maupun di dasar otak.

Bell`s Palsy

Bell’s Palsy adalah suatu kelainan pada saraf wajah yang menyebabkan kelemahan atau kelumpuhan tiba-tiba pada otot di satu sisi wajah.

Saraf wajah adalah saraf kranial yang merangsang otot-otot wajah.

Penyebab
Penyebabnya tidak diketahui, tetapi diduga terjadi pembengkakan pada saraf wajah sebagai reaksi terhadap infeksi virus, penekanan atau berkurangnya aliran darah.

Gejala
Bell’s palsy terjadi secara tiba-tiba.
Beberapa jam sebelum terjadinya kelemahan pada otot wajah, penderita bisa merasakan nyeri di belakang telinga. Kelemahan otot yang terjadi bisa ringan sampai berat, tetapi selalu pada satu sisi wajah.

Sisi wajah yang mengalami kelumpuhan menjadi datar dan tanpa ekspresi, tetapi penderita merasa seolah-olah wajahnya terpuntir.
Sebagian besar penderita mengalami mati rasa atau merasakan ada beban di wajahnya, meskipun sebetulnya sensasi di wajah adalah normal.

Jika bagian atas wajah juga terkena, maka penderita akan mengalami kesulitan dalam menutup matanya di sisi yang terkena.
Kadang penyakit ini mempengaruhi pembentukan ludah, air mata atau rasa di lidah.

Diagnosa
Diagnosis ditegakkan berdasarkan gejalanya.
Bell’s palsy selalu mengenai satu sisi wajah; kelemahannya terjadi tiba – tiba dan dapat melibatkan baik bagian atas atau bagian bawah wajah.

Penyakit lainnya yang juga bisa menyebabkan kelumpuhan saraf wajah adalah:
– Tumor otak yang menekan saraf
– Kerusakan saraf wajah karena infeksi virus (misalnya sindroma Ramsay Hunt)
– Infeksi telinga tengah atau sinus mastoideus
– Penyakit Lyme
– Patah tulang di dasar tengkorak.
Untuk membedakan Bell’s palsy dengan penyakit tersebut, bisa dilihat dari riwayat penyakit, hasil pemeriksaan rontgen, CT scan atau MRI. Pada penyakit Lyme perlu dilakukan pemeriksaan darah.
Tidak ada pemeriksaan khusus untuk Bell’s palsy.

Pengobatan
Tidak ada pengobatan khusus untuk Bell’s palsy.

Beberapa ahli percaya bahwa kortikoteroid (misalnya prednison) harus diberikan dalam waktu tidak lebih dari 2 hari setelah timbulnya gejala dan dilanjutkan sampai 1-2 minggu.
Apakah pengobatan ini bisa mengurangi nyeri dan memperbaiki kesempatan untuk sembuh, masih belum dapat dibuktikan.

Jika kelumpuhan otot wajah menyebabkan mata tidak dapat tertutup rapat, maka mata harus dilindungi dari kekeringan.
Tetes mata pelumas digunakan setiap beberapa jam.

Pada kelumpuhan yang berat, pemijatan pada otot yang lemah dan perangasangan sarafnya bisa membantu mencegah terjadinya kekakuan otot wajah.

Jika kelumpuhan menetap sampai 6-12 bulan atau lebih, bisa dilakukan pembedahan untuk mencangkokkan saraf yang sehat (biasanya diambil dari lidah) ke dalam otot wajah yang lumpuh.

Paralisa Bell

Paralisa Bell adalah penyakit pada saraf otak ketujuh yang mengakibatkan kelemahan unilateral wajah atau kelumpuhan. Perkembangan penyakit ini sangat cepat.

Meskipun menyerang segala usia, penyakit ini umumnya ditemukan pada orang berusia di bawah 60 tahun. 80% sampai 90% penderita bisa sembuh secara spontan dalam tempo 1 sampai 8 minggu, meskipun penyembuhan dapat tertunda pada orang berusia lebih tua.

Bila penyembuhan hanya sebagian, kontraksi dapat berkembang sebagai kelumpuhan pada sebagian sisi wajah. Paralisa Bell dapat terjadi lagi, pada tempat yang sama atau sisi yang berlainan pada wajah.

Penyebab

Paralisa Bell menghambat susunan saraf otak ketujuh yang bertanggung jawab sebagai saluran saraf ke otot wajah.

Saraf terhambat karena adanya reaksi infeksi (biasanya pada lubang telinga bagian dalam) yang sering dikaitkan dengan infeksi dan dihasilkan sebagai akibat dari pendarahan di dalam, tumor, meningitis atau trauma lokal.

Gejala

Paralisa Bell disebabkan oleh kelemahan wajah pada satu sisi, kadang-kadang dengan rasa sakit di sekitar sudut rahang bawah atau di belakang kuping. Pada sisi yang terserang, mulut terkulai (menyebabkan penderita terkulai juga pada sudut mulutnya) dan pengindraan rasa juga terganggu pada bagian lidah depan.

Selain itu, kening terlihat halus, dan kemampuan penderita untuk menutup mata pada sisi wajah yang terserang sangat terbatas. Saat mencoba menutup mata tersebut, mata bergulir ke atas (disebut fenomena Bell) dan mengakibatkan air mata yang berlebihan.

Meskipun fenomena Bell terjadi pada orang yang normal, fenomena ini tidak terlihat karena mata dapat menutup secara utuh dan menutupi gerakan mata ini. Pada paralisa Bell, tidak utuhnya penutupan mata membuat gerakan ini terlihat sangat jelas.

Diagnosa

Diagnosis penyakit ini tergantung pada hasil presentasi klinis penampilan wajah yang terganggu dan ketidakmampuan menaikkan alis, menutup pelupuk mata, tersenyum, menunjukkan gigi, atau menggembungkan pipi.

Setelah 10 hari, pemeriksaan elektromiografi dapat menolong perkiraan tingkat penyembuhan yang diharapkan dengan membedakan kerusakan konduksi sementara dengan infeksi serius pada serat saraf.

Pengobatan

Pengobatan terdiri dari Dexamethasone, kortikosteroid oral yang dapat mengurangi pembengkakan saraf wajah dan memperbaiki konduksi saraf dan aliran darah.

Setelah 14 hari terapi Dexamethasone, elektroterapi dapat dilakukan untuk menghindari terjadinya atrofi otot wajah.

Selama terapi Dexamethasone, penderita dapat mengalami efek sampingan, terutama gangguan saluran pencernaan dan pengambatan cairan.

Bila gangguan saluran pencernaan terjadi minumlah antasid pada saat bersamaan. Cara ini dapat mengurangi gangguan. Bila penderita juga menderita diabetes, Dexamethasone harus digunakan dengan hati-hati dan dengan memonitor kadar gula darah.