Reaksi Masyarakat Indonesia Mendengar Proklamasi

Posted on

DETALOG.COM – Pada tanggal 6 Agustus 1945 sebuah bom atom dijatuhkan di atas kota Hiroshima Jepang oleh Amerika Serikat yang mulai menurunkan moral semangat tentara Jepang di seluruh dunia. Sehari kemudian Badan Penyelidik Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia BPUPKI, atau “Dokuritsu Junbi Cosakai“, berganti nama menjadi PPKI (Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia) atau disebut juga Dokuritsu Junbi Inkai dalam Bahasa Jepang, untuk lebih menegaskan keinginan dan tujuan mencapai kemerdekaan Indonesia.

Pada tanggal 9 Agustus 1945, bom atom kedua dijatuhkan di atas Nagasaki sehingga menyebabkan Jepang menyerah kepada Amerika Serikat dan sekutunya. Momen ini pun dimanfaatkan oleh Indonesia untuk memproklamasikan kemerdekaannya, dilansir dari Wikipedia.

Proklamasi Kemerdekaan

Proklamasi disepakati akan diadakan di rumah Ir. Sukarno di jalan Pegangsaan Timur 56 (sekarang jalan Proklamasi, Gedung Perintis Kemerdekaan), pada pukul 10.30. Sebelumnya Drs. Moh. Hatta berpesan pada para pemuda yang bekerja pada pers dan kantor berita terutama B. M. Diah untuk memperbanyak teks proklamasi dan menyiarkan keseluruh dunia.

Sementara itu persiapan di Pegangsaan Timur cukup sibuk. Wakil walikota Suwirjo memerintahkan kepada Mr. wilopo untuk mempersiapkan peralatan yang diperlukan, yaitu mikrofon dan beberapa pengeras suara yang dipinjam dari Gunawan pemilik toko radio Satria di Salemba Tengah. Kemudian S. Suhud atas perintah Sudiro menyiapkan bambu yang diberi tali sebagai tiang bendera yang dan ditanam beberapa langkah saja dari teras. Bendera pun sudah disiapkan oleh Nyonya Fatmawati Sukarno.

Setelah semua siap, lima menit sebelum acara dimulai, Drs. Moh Hatta datang dan langsung menemui Sukarno di kamarnya, dan proklamasi kemerdekaan Indonesia pun dilaksanakan.

Reaksi Masyarakat Indonesia Mendengar Proklamasi

Adapun reaksi berbagai daerah di indonesia terhadap proklamasi kemerdekaan Republik Indonesia adalah:

1. Proklamasi kemerdekaan Indonesia yang diumumkan pada tanggal 17 Agustus 1945 merupakan perwujudtan niat dan tekad rakyat Indonesia untuk merdeka melepaskan diri dari penjajahan. Proklamasi Kemerdekaan, menimbulkan tanggapan dari rakyat Indonesia berupa gerakan spontan rakyat Indonesia yang mendukung Proklamasi Kemerdekaan Indonesia. Rakyat Indonesia berupaya menegakkan kedaulatan Indonesia yang baru saja merdeka.

2. Menghadapi kenyataan tersebut para pemuda yang tergabung dalam komite Van Acctie Menteng 31 berperan sebagai pelopor gerakan pemuda di Jakarta. Memunculkan gagasan untuk mengerahkan massa dalam suatu rapat raksasa di Lapangan Ikada dan rakyat siap mendengarkan pidato para pemimpin bangsa Indonesia. Suasana di Lapangan Ikada menjadi tegang setelah pasukan Jepang datang dan mengepung lengkap dengan senjatanya sehingga sewaktu – waktu dapat terjadi.

3. Perintah yang dikeluarkan Presiden Soekarno dipatuhi sehingga rapat raksasa di Lapangan Ikada berakhir dengan aman dan tertib. Makna yang sangat besar pada Rapat raksasa di Lapangan Ikada: 1) Rapat berahasil mempertemukan pemerintah RI dengan rakyat; 2) Rapat merupakan perwujudtan kewibawaan pemerintah RI di hadapan rakyat; 3) Rapat berhasil menggugah kepercayaan rakyat akan kekuatan bangsa Indonesia sendiri.

4. Ketika Proklamasi Kemerdekaan Indonesia mulai tersebar di penjuru tanah air, Sultan Hamengkubowono IX spontan menyatakan bahwa Yogyakarta tergabung dengan Republik Indonesia. Tanggal 5 September 1945 Sultan Hamengkubowono IX mengeluarkan pernyataan sebagai bentuk dukungan terhadap Republik Indonesia, sebagai berikut: 1) Negeri Yogyakarta Hadiningrat yang bersifat kerajaan adalah daerah istimewa bagian dari negara Republik Indonesia; 2) Hubungan antara Yogyakarta dengan pemeritah pusat negara Indonesia bersifat langsung dan akan bertanggung jawab langsung kepada presiden Republik Indonesia; 3) Sultan Hamengkubowono IX memerintahkan segenap.

5. September 1945, beberapa keresidenan di Jawa menyambut Proklamasi Kemerdekaan dengan menyatakan diri sebagai bagian dari pemerintahan Republik Indonesia dan mengancam akan melakukan tindakan keras terhadap segala tindakan yang menentang pemerintah Republik Indonesia. Pegawai-pegawai Jepang dirumahkan dan dilarang memasuki kantor-kantor mereka.

6. Para pemuda berusaha untuk merebut senjata dan gedung-gedung vital. Selama bulan September di Surabaya terjadi perebutan senjata di Arsenal (gudang museu) Don Bosco, perebutan Markas Pertahanan Jawa Timur, perebutan Pangkalan Angkatan Laut Ujung, dan perebutan markas-markas Jepang lainnya serta perebutan pabrik-pabrik yang tersebar di seluruh kota.

7. 19 September 1945 Terjadi Insiden Bendera di Hotel Yamato. Insiden ini terjadi ketika orang-orang Belanda bekas tawanan Jepang menduduki Hotel Yamato dibantu oleh serombongan sekutu mengibarkan bendera di Puncak hotel. Itu memancing kemarahan para pemuda maka Residen Sudirman dengan cara baik agar bendera belanda itu diturunkan. Permintaan ditolak maka Hotel diserbu oleh para pemuda. Beberapa pemuda berhasil memanjat atap hotel dan menurunkan bendera Belanda. Lalu di robek warna birunya. Dan dikibarkan kembali menjadi bendera merah putih.

8. Sasaran berikutnya adalah Markas Keempetai yang terletak di depan kantor Gubernur sekarang karena dianggap sebagai lambang kekejaman Jepang. Markas diserbu oleh rakyat tanggal 1 Oktober 1945. setelah pertempuran selama lima jam gedung itu jatuh ke tangan rakyat.

9. Perebutan kekuasaan di Yogyakarta dilakukan serempak sejak tanggal 26 September 1945. sejak pukul 10 pagi semua perusahaan yang dikuasai Jepang mengadakan aksi pemogokan. Mereka memaksa Jepang menyerahkan semua kantor yang dikuasainya kepada Indonesia. Tanggal 27 September 1945 KNI (Komite Nasional Indonesia) Daerah Jogjakarta meungumumkan bahwa kekuasaan daerah Jogjakarta telah berada di Indonesia.

10. Pada tanggal 14 oktober 1945, 400 tawanan jJepang dari pabrik gula Cipiring diangkut oleh pemuda indonesia ke semarang dengan rencana menawannya di Penjara Bulu. Dalam perjalanan sebagian tawanana melarikan diri dan meminta perlindungan kepada Batalion Kido. Para pemuda menjadi marah dan melakukan perebutan terhadap Kantor pemerintah Jepang di Indonesia. Pasukan Jepang ditawan, tapi kesokan harinya pasukan Jepang melakukan melakukan serbuan ke Semarang di Tangsinya di Jatingaleh. Jadilah pertempuran 5 hari di Semarang.

11. Tanggal 19 Agustus 1945, rombongan Dr. Sam Ratulangi, Gubernur Sulawesi, mendarat di Sapinia, Bulukumba. Setelah sampai di Ujung Pandang, Gubernur segera membentuk pemerintahan daerah. Mr. Andi Zainal Abidin diangkat sebagai Sekretaris Daerah. Para pemuda mengorganisasi diri dan merencanakan merebut gedung – gedung vital seperti studio radio dan tangsi polisi. Kelompok pemuda terdiri dari kelompok Barisan Berani Mati (Bo-ei Taishin), bekas Kaigun Heiho dan pelajar SMP. Tanggal 28 Oktober 1945 mereka bergerak menuju sasaran. Akibat peristiwa tersebut pasukan Australia yang telah ada bergerak dan melucuti mereka. Sejak peristiwa tersebut gerakan pemuda dipindahkan dari Ujung Padang ke Polombangkeng.

12. Diawali dengan usaha para pemuda untuk merebut pangkalan Udara Andir dan pabrik senjata bekas ACW (Artillerie Constructie Winkel, sekarang Pindad). Berlangsung sampai pasukan Sekutu datang tanggal 17 Oktober 1945.

13. Tanggal 8 Oktober 1945 Residen Sumatra Selatan Dr. A.K. Gani bersama seluruh pegawai Gunseibu dalam suatu upacara menaikan bendera Merah Putih. Diumumkan Juga bahwa seluruh Karisidenan Palembang hanya ada satu kekuasaan yakni kekuasaan Republik Indonesia. Perbutan kekuasaan di Palembang berlangsung tanpa insiden sebab orang-orang Jepang telah menghindar saat terjadi demonstrasi.

14. Tanggal 14 Februari 1946, para pemuda Indonesia anggota KNIL tergabung dalam Pasuka Pemuda Indonesia (PPI) mengadakan gerakan Tangsi Putih dan Tangsi Hitam di Teling, Manado. Mereka membebaskan tawanan yang mendukung Republik Indonesia antara lain Taulu, Wuisan, Sumanti, G.A Maengkom, Kusno Dhanupojo, G.E. Duhan, juga menahan Komandan Garnisun Menado dan semua pasukan Belanda di Teling dan Penjara Manado. Diawali peristiwa tersebut para pemuda menguasai markas Belanda di Tomohon dan Tordano. Berita dan perebutan kekuasaan tersebut dikirim ke Pemerintah Pusat.

15. Pada Bulan Desember 1945, para pemuda berusaha merebut senjata dari jepang dan bentrokan terjadi di Gempe dan di Sape.

16. Dukungan para pejuang kalimantan untuk proklamasi kemerdekaan Indonesia dengan cara berdemokrasi, pengibaran bendera merah putih, dan mengadakan rapat-rapat dalam pembicaraan tentang kemerdekaan indonesia. Di beberapa kota Kalimantan mulai timbul gerakan yang mendukung proklamasi. Akibatnya tentara Australia yang sudah mendarat atas nama Sekutu mengeluarkan ultimatum melarang semua aktifitas politik seperti demonstrasi dan mengibarkan bendera Merah Putih, memakai lencana Merah Putih dan mengadakan rapat. Namun kaum nasionalis tetap melaksanakannya. Tanggal 14 November 1945, sejumlah tidak kurang 8000 orang berkumpul di depan komplek NICA sambil.

17. Pada bulan Agustus 1945, para pemuda Bali telah membentuk organisasi seperti Angkatan Muda Indonesia (AMI) dan Pemuda Republik Indonesia (PRI). Upaya perundingan untuk menegakkan kedaulatan RI telah mereka upayakan, tetapi pihak Jepang selalu menghambat. Atas tindakan tersebut pada tanggal 13 Desember 1945 para pemuda merebut kekuasaan dari Jepang secara serentak, tetapi belum berhasil karena persenjataan Jepang masih kuat.

18. Pemuda di Sulawesi Selatan menganggap tindakan Samratulangi Gubernur Sulawesi Sealatan terlalu hati-hati. Maka dari itu Pemuda merencanakan untuk merbut gedung yang dianggap penting, seperti Studio Radio, Tangsi Militer dan Pos Polisi. Dalam kelompok itu ada mantan anggota Kaigun, Heiho dan Pelajar SMP. Juga terdiri dari kelompok Barisan Berani Mati. Tanggal 28 oktober 1945 mereka menuju sasaran dan melakukan pendudukan. Tujuan mereka membela Proklamasi Kemerdekaan Indonesia. Gerakan itu menjalar hingga Gorontalo dan Minahasa.

19. Sejak tanggal 6 Oktober 1945 para pemuda membentuk Angkatan Muda Indonesia ( API ) segera bergerak mengambil alih dan merebut kantor – kantor pemerintahan yang masih dikuasai oleh Jepang. Di tempat yang sudah berhasil direbut, dikibarkan bendera Merah Putih. Dibeberapa tempat mereka juga berhasil melucuti senjata Jepang.

20. Tanggal 13 September 1945 di kota Gorontalo terjadi perebutan senjata terhadap markas-markas Jepang. Kedaulatan Republik Indonesia berhasil ditegakkan dan para pemimpin republik menolak ajakan untuk berunding dengan pasukan pendudukan Australia.

21. Puncak kegiatan mendukung proklamasi tersebut ialah rapat raksasa di medan pada tanggal 3 oktober. Ketika itu gubernur sumatera, Mr. Teuku Moh. Hasan, menyatakan proklamasi kemerdekaan secara Resmi. Demikianlah tindakan Heroik para pemuda demi mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Mereka rela berkorban agar Negara Indonesia tetap merdeka dan tidak diganggu oleh para penjajah lagi.