Pengaruh Glasiasi Terhadap Flora dan Fauna di Indonesia

Posted on

DETALOG.COM – Glasiasi atau zaman glasial adalah masa di mana suhu bumi menurun dalam jangka waktu lama dan pada akhirnya menyebabkan meningkatnya jumlah luasan es di kawasan kutub dan gletser gunung. Namun sisa lautan yang tidak tertutupi es memiliki suhu tertinggi sekitar 40°C.

Menurut para ahli zaman es telah terjadi berulang kali dengan diselingi masa-masa yang lebih hangat yang disebut masa interglasial. Pada zaman es, air laut membeku sehingga permukaan air laut turun sampai 100 meter dan garis pantai pun menjorok ke laut. Kemungkinan ada beberapa pulau yang menyatu saat zaman es berlangsung.

AWAL MULA GLASIASI

Zaman glasial dimulai di masa Pleistosen yang berlangsung sekitar 600.000 tahun lalu. Masa pleistosen ditandai dengan adanya siklus glasialisasi, yaitu mendinginnya iklim bumi dan meluasnya lapisan es tebal di kedua kutub. Bukti-bukti yang mendukung tentang terjadinya zaman es, yaitu sekurang-kurangnya terjadi 8 kali zaman es besar. 4 diantaranya termasuk zaman es ekstrim yang merupakan zaman es terakhir. Zaman ini diselingi dengan zaman antar es (interglasial) dimana iklim relatif hangat. Hal yang sebaliknya terjadi pada zaman Interglasial dengan prosesnya sebagai berikut:

Iklim menjadi panas –> es di kutub dan di gunung mencair –> hujan bertambah –> tumbuhan bertambah.

Sementara itu permukaan air laut naik hingga lebih dari 100 meter. Tidak hanya itu, laut akhirnya menyerbu jauh hingga ke daratan. Kecepatan naiknya permukaan laut saat itu rata-rata 5 cm/tahun.

Lalu di wilayah-wilayah bekas es, permukaan tanah naik ke atas berkat elastisitas kulit bumi. Kenaikan tanah ini ada yang lebih cepat dari naiknya permukaan laut, sehingga sedimen-sedimen laut ditemukan jauh di atas laut. Proses ini dinamakan vaulting, yaitu pergeseran tektonik lempeng-lempeng kulit bumi, yang bisa mengangkat dasar laut mencuat jauh ke atas.

PENGARUH GLASIASI TERHADAP FLORA DAN FAUNA DI INDONESIA

Ketika zaman es, pemukaan air laut jauh lebih rendah daripada sekarang karena banyak air yang membeku di daerah kutub. Kala itu Laut Cina Selatan kering, sehingga kepulauan Nusantara barat tergabung dengan daratan Asia Tenggara. Sementara itu pulau Papua juga tergabung dengan benua Australia. Setelah peristiwa melelehnya es, maka gelombang migrasi manusia ke bumi Nusantara mulai terjadi.

Zaman glasial telah menyebabkan persebaran flora dan fauna di dunia terutama di Indonesia. Saat bumi mengalami zaman glasial, laut-laut berubah menjadi es dan mengakibatkan menyambungnya daratan-daratan serta benua-benua. Indonesia juga mengalami hal yang sama dengan daratan yang lainnya. Pada saat itu, Paparan Sunda yang dulunya berupa sebuah lautan yang memisahkan Indonesia dengan Asia menjadi berupa sebuah es yang menghubungkan Asia dengan Indonesia bagian barat. Selain itu Bagian Indonesia timur juga tersambung dengan benua yang lain, yaitu Australia dan disebut dengan Paparan Sahul.

 

Saat Indonesia bagian barat tersambung dengan Asia, maka binatang-binatang yang berada di Asia bisa dengan mudah bermigrasi ke Indonesia bagian barat. Lalu saat Indonesia bagian timur tersambung dengan Australia, maka binatang yang tinggal di Australia dapat bermigrasi dengan bebas tanpa harus menyeberang melewati lautan yang memisahkan Indonesia dengan Australia.

Maka dari itulah binatang yang hidup di Asia mempunyai kemiripan dengan binatang yang tinggal di Indonesia bagian barat, seperti badak jawa, harimau jawa, dan beberapa lainnya. Sementara itu, hewan yang berada di Indonesia bagian timur juga mempunyai kemiripan dengan hewan yang hidup di Australia seperti kanguru, burung Cendrawasih, dan beberapa lainnya.

Jika melihat fakta-fakta yang ada saat ini, bisa disimpulkan bahwa akibat dari zaman glasial dapat mempengaruhi persebaran fauna di dunia, khususnya di Indonesia. Saat zaman glasial terjadi, Di daerah tropis mengalami zaman hujan (pluvial) yang diselingi dengan zaman kering (interpluvial). Pada saat itu Indonesia juga mengalami zaman pluvial karena Indonesia berada pada daerah tropis. Hampir setiap hari Indonesia mengalami hujan yang mengakibatkan banyaknya terbentuk hutan-hutan hujan di Indonesia dan daerah tropis yang lainnya. Contoh: hutan hujan tropis di Kalimantan. Itu pula sebabnya ada kemiripan flora antara Indonesia dengan daerah tropis di belahan bumi lainnya.

Lalu setelah terjadi zaman interglasial, es-es yang telah menghubungkan antara Indonesia dengan Asia dan Australia kembali menjadi laut, yaitu pada Paparan Sunda dan Paparan Sahul. Pada saat itu, binatang-binatang yang sudah bermigrasi ke Indonesia tidak dapat kembali lagi ke daerah asalnya sehingga para binatang tersebut harus menetap di Indonesia. Inilah yang membuat flora dan fauna di Indonesia memiliki kesamaan dengan flora dan fauna di wilayah benua Asia dan Australia.