Bagaimanakah Ciri-ciri Orang Yang Menderita Tetanus?

Posted on

DETALOG.COM – Apa yang Dimaksud Dengan Penyakit Tetanus ?
Tetanus adalah penyakit infeksi serius yang menyerang susunan saraf dan ditandai kontraksi otot yang hebat (kejang). Penyakit ini biasanya terjadi akibat luka tusuk dalam oleh benda yang tercemar debu, pupuk, tanah dan kotoran hewan atau manusia. Pada bayi yang baru lahir, kuman ini dapat masuk melalui luka iris tali pusat yang tidak dipotong dengan pisau steril. Penyakit tetanus pada bayi yang baru lahir disebut tetanus neonatorum dan merupakan salah satu penyebab kematian terbanyak pada bayi.

Kata tetanus diambil dari bahasa Yunani yaitu tetanos dari teinein yang berarti menegang. Penyakit ini adalah penyakit infeksi di saat spasme otot tonik dan hiperrefleksia menyebabkan trismus (lockjaw), spasme otot umum, melengkungnya punggung (opistotonus), spasme glotal, kejang, dan paralisis pernapasan.

Gejala Penyakit Tetanus.
Tanda dan gejala tetanus dapat muncul kapan saja mulai dari beberapa hari sampai beberapa minggu setelah bakteri penyebab tetanus masuk ke dalam tubuh melalui luka. Dengan rata-rata masa inkubasi tujuh sampai delapan hari gejala tetanus baru muncul.

Tanda-tanda dan gejala tetanus secara berurutan adalah sebagai berikut:

– Spasme dan kaku pada otot rahang.
– Diikuti kekakuan pada otot leher.
– Kesulitan menelan.
– Otot perut menjadi kaku.
– Kejang tubuh yang menyakitkan sampai tulang punggung melengkung (epistotonus), berlangsung selama beberapa menit. Kejang ini biasanya dipicu oleh kejadian kecil, seperti suara keras, sentuhan fisik atau cahaya.
– Kematian dapat terjadi karena kesulitan bernafas, lantaran otot-otot pernafasan tidak berfungsi normal.

Tanda dan Gejala tetanus lainnya antara lain:

– Demam
– Berkeringat
– Tekanan darah tinggi
– Denyut nadi atau detak jantung menjadi lebih cepat.
– Gangguan membuang air besar dan air kecil.

Diagnosis Penyakit Tetanus.
Hingga saat ini belum ada tes laboratorium khusus untuk memastikan seseorang menderita tetanus, sehingga dokter hanya mengandalkan adanya riwayat luka dan gejala khas yang ditemukan.

Pemeriksaan yang dapat dilakukan untuk mendukung diagnosis ialah tes spatula yaitu menyentuh dinding tenggorokan dengan spatula (semacam sendok), respons penderita tetanus ialah menggigit spatula dan menutup mulut sedangkan orang normal akan memberi reaksi mual.

Perawatan Luka Untuk Mencegah Tetanus.
Yang dimaksud dengan merawat luka adalah dngan membersihkan luka dengan baik, yaitu menghilangkan kotorannya, benda asing dan jaringan mati (jika ada), terlebih lagi pada luka yang dalam dan kotor. Hal ini merupakan langkah pertama mencegah tumbuhnya spora tetanus.

Selain itu diperlukan juga pemberian suntuka vaksin TT (Tetanus Toxoid) bagi yang mengalami luka yang dalam dan/atau kotor.

Obat Tetanus.
– Antitoksin (Anti Tetanus Serum atau ATS).
Saat ini tersedia antitoksin tetanus, seperti tetanus immune globulin. Namun, antitoksi ini hanya dapat menetralkan racun yang belum terikat jaringan saraf.
– Antibiotik.
Diperlukan utnuk membunuh bakteri penyebab tetanus, baik diberikan secara oral (diminum) atau dengan suntikan (umumnya).
– Vaksin.
Sekali mengalami tetanus tidak membuat seseorang kebal terhadap serangan berikutnya. Jadi, harus menerima atau melakukan vaksin untuk mencegah infeksi tetanus di kemudian hari.
– Obat Penenang.
Dokter biasanya akan memberikan obat penenang kuat untuk mengendalikan kejang otot. Contohnya: Diazepam.
– Obat Lain.
Jenis obat lainnya, seperti magnesium sulfat (MgSO4) dan beta blockers tertentu dapat digunakan untuk membantu mengatur aktivitas otot yang tak sadar, seperti detak jantung dan pernafasan.

Pada kasus berat, penderita perlu dirawat di ICU dengan :

– Trakeostomi dan pemasangan ventilator untuk membantu pernafasan.
– Pemberian makanan/minuman lewat selang perut.

Penderita akan ditempatkan dalam ruangan yang tenang, pemasangan ventilator perlu karena pemberian obat penenang menyebabkan pernapasan dangkal. Makanan akan diberikan lewat infus dan kateter dipasang untuk pembuangan kotoran. Pasien sebaiknya berbaring bergantian miring kanan atau miring kiri agar memudahkan jalannya pernapasan. Untuk mencegah pneumonia, pasien akan dipaksa untuk batuk. Setelah pasien sembuh akan diberikan vaksinasi lengkap kembali.

Beberapa langkah yang dapat dilakukan untuk mencegah penyakit ini ialah :

– Perawatan luka yang higienis
– Pemberian vaksin antitetanus (tetanus toksoid), baik imunisasi dasar pada bayi dan anak maupun vaksinasi berulang tiap 10 tahun atau pada saat terjadi luka yang serius.

Advertisements