Kehidupan Manusia di Zaman Neolithikum

Posted on

DETALOG.COM – Neolithikum adalah suatu zaman terjadinya revolusi yang sangat besar pada peradaban manusia. Perubahan besar ini ditandai dengan berubahnya peradaban cara hidup dari hanya sekedar mengumpulkan bahan makanan menjadi memproduksi bahan makanan itu dengan cara bercocok tanam dan beternak. Pada mulanya, pertanian yang mereka selenggarakan masih bersifat primitif dan hanya dilakukan di tanah-tanah kering saja. Pohon-pohon dari beberapa bagian hutan di kelupas kulitnya dan kemudian dibakar. Tanah-tanah yang baru dibuka untuk lahan pertanian digunakan berkali-kali untuk ditanami dan kemudian ditinggalkan untuk selanjutnya mencari lahan pertanian yang baru.

Pada zaman neolithikum mulai dikembangkan teknik mengawetkan makanan agar dapat disimpan lebih lama. Pada zaman ini juga makanan dikeringkan agar bisa dimakan lagi walaupun telah disimpan lebih lama. Selain itu, pada zaman ini juga diperkirakan bahwa kayu-kayu sudah dihias dengan cara diukir.

Kehidupan Manusia di Zaman Neolithikum

1. Kehidupan di Lingkungan Alamnya

Kemampuan berpikir manusia untuk mempertahankan kehidupannya mulai berkembang. Hal ini mengakibatkan munculnya kelompok-kelompok manusia dalam jumlah yang lebih banyak serta menentap di suatu tempat dan tinggal bersama dalam kampung. Munculnya bentuk kehidupan semacam itu berawal dari upaya manusia untuk menyiapkan persediaan bahan makanan yang cukup dalam satu masa tertentu dan tidak perlu mengembara lagi untuk mencari makanan.

Dalam kehidupan menetap, manusia mulai hidup dari hasil bercocok tanam dengan menanam jenis-jenis tanaman yang semula tumbuh liar untuk dapat memenuhi kebutuhan hidupnya. Di samping itu, mereka mulai menjinakkan hewan-hewan yang dapat memenuhi kebutuhan hidupnya seperti kuda, anjing, kerbau, sapi, dan babi. Dari pola kehidupan bercocok tanam ini, manusia sudah dapat menguasai alam lingkungannya beserta isinya.

Kehidupan bercocok tanam yang pertama kali dikenal oleh manusia adalah berhuma. Berhuma adalah teknik bercocok tanam dengan cara membersihkan hutan dan menanamnya, setelah tahan tidak subur mereka pindah dan mencari bagian hutan yang lain. Kemudian mereka mengulang pekerjaan membuka hutan, demikian seterusnya. Bahkan hal ini dapat berlangsung dari generasi ke generasi berikutnya. Oleh karena itu, manusia mulai menerapkan kehidupan bercocok tanam pada tanah-tanah persawahan.

2. Kehidupan Sosial

Kehidupan masyarakat pada masa bercocok tanam mengalami peningkatan yang cukup pesat. Masyarakatnya sudah memiliki tempat tinggal yang tepat. Mereka memilih tempat tinggal pada suatu tempat tertentu. Hal ini dimaksudkan agar hubungan antara manusia di dalam kelompok masyarakatnya semakin erat.

Eratnya hubungan antara manusia di dalam kelompok masyarakatnya, merupakan suatu cermin bahwa manusia tidak dapat hidup sendiri tanpa anggota kelompok masyarakat yang lainnya. Hal ini disebabkan karena manusia adalah makhluk sosial. Manusia selalu tergantung dengan manusia lainnya, sehingga masing-masing manusia saling berinteraksi dalam upaya memenuhi kebutuhan hidupnya.

3. Kehidupan Ekonomi

Pada masa kehidupan bercocok tanam, kebutuhan hidup masyarakat semakin bertambah, namun tidak ada satu anggota masyarakat pun yang dapat memenuhi seluruh kebutuhan hidupnya sendiri. Oleh karena itu mereka menjalin hubungan yang lebih erat lagi dengan sesama anggota masyarakat, mereka juga menjalin hubungan dengan masyarakat yang berbeda diluar daerah tempat tinggalnya. Pada saat menunggu waktu antara musim tanam hingga datangnya musim panen. masyarakat pada zaman ini mulai mengenal sistem barter dimana terjadi pertukaran barang untuk memenuhi kebutuhan mereka.

4. Kehidupan Mengenai Kepercayaan

Perkembangan sistem kepercayaan masyarakat pada masa kehidupan bercocok tanam dan menetap, merupakan kelanjutan kepercayaan yang telah muncul pada masa kehidupan masyarakat berburu dan mengumpulkan makanan. Pada masa berburu dan mengumpulkan makanan kepercayaan baru sebatas adanya penguburan.

Pada masa kehidupan bercocok tanam kepercayaan masyarakat semakin bertambah, bahkan masyarakat juga telah mempunyai konsep tentang apa yang terjadi dengan seorang yang telah meninggal. Mereka percaya bahwa orang-orang yang meninggal rohnya pergi kesuatu tempat yang tidak jauh dari tempat tinggalnya atau roh orang yang meninggal itu tetap berada disekitar wilayah tempat tinggalnya, sehingga sewaktu-waktu dapat dipanggil untuk dimintai bantuannya dalam kasus tertentu seperti menanggulangi wabah penyakit atau mengusir pasukan-pasukan musuh yang ingin menyerang wilayah tempat tinggalnya.

Advertisements